Kerinduan
Sudah lebih 6 hari ini aku diganggu oleh suara-suara
aneh dalam rumahku, sekilas seperti tangisan banyak orang tapi tak jelas. Suara
itu akan lebih nampak jelas ketika ba’da maghrib. Lama-lama aku tak tahan juga
ingin tahu suara siapa itu sebenarnya. Jum’at tengah malam kuberanikan diriku
untuk “meraga sukma”, melepas sukma keluar dari ragaku untuk mencari tahu
apa sebabnya rumahku kadang seperti ada suara tangisan, kadang diam silih
berganti.
Masya Alloh, begitu
sukmaku masuk ke alam lain, aku dengar dinding rumah, genteng, paku, dipan, lemari kayu, lemari
plastic, usuk, reng, list gypsum,lantai kermik, kasur, seprei, bantal dengan
urungnya, meja, kursi plastic, korden, minyak rambut, pencukur kumis dan
jenggotku, kunci almari bahkan beberapa koleksi bukuku juga menangis. Aku
bingung …. Ada
apa ini?!
Dengan rasa dag dig dug karena baru kali ini menemukan
hal aneh seperti ini ku sapa mereka,”Assalamu’alaikum warohmatullohi
wabarokatuh”. “Wa’alaikum salam
warohmatullohi wabarokatuh”. Terdengar sahutan kompak dari mereka yang membuat
bulu-bulu kudukku merinding. Mereka mengarahkan pandangannya kepadaku, aku
tercengang. Ternyata mereka semua punya
mata, hidung, mulut dan telinga sebagaimana manusia, yang lebih membuatku
terkejut dan takjub mereka semua kelihatan sedang bersedih dan menitikkan air
mata. Belum sempat aku menanyakan sesuatu, seperti bersamaan mereka merubungku
sambil mengatakan,” kami rindu….. kami rindu….. suruh dia kembali kesini untuk
bisa bersama kami.”
Aku tidak paham, kalau satu orang yang datang
menantangku berkelahi barang kali bisa kulumpuhkan sekali pukul dengan ilmu
silatku, kalaupun dua orang masih berani aku melayani mereka. Tapi ini
serombongan makhluk yang baru kujumpai bisa bicara, tentu saja aku tidak berani
sembarangan.
Dengan membaca
bismillah kuajak mereka dialog.
‘Sabar… sabar saudara-saudara ini ada apa? Apa yang kalian kehendaki
dariku dan siapa yang kalian rindukan.”
Bersahut-sahutan mereka menjawab,
“Sudah sebulan lebih kami merasakan damai karena alunan bacaan al-Quran penghuni kamar
ini, sekarang kemana dia?’ tanya dinding dengan lantangnya.
“Lebih sebulan aku selalu menjadi tempatnya berkaca ketika menata
pakaiannya supaya rapi, ketika menyisir rambutnya yang sebahu lebih, juga ketika mengoleskan
bedak tipis di wajahnya, aku pun bisa memandang wajahnya yang anggun penuh
dengan aura air wudlu, kemana dia sekarang ?” lemari kacaku berkata tak kalah lantang.
“Lebih sebulan diriku menjadi tempatnya beristirahat, jika malam
kulindungi dia dari dinginnya hawa pegunungan, kulakukan semata-mata menghormat
tubuhnya yang berbalut keimanan dan takwa,” dipan kamar depan anakku nimbrung
bicara.
“Lebih sebulan aku selalu menjadi tempatnya berdiri ketika sholat,
beradu dengan dua lutut, dua telapak tangan, hidung dan keningnya ketika sujud
dalam sholat, menjadi tempatnya duduk ketika berzikir. Sekarang orangnya sudah
tidak ada, kemana dia? Aku rindu mendengar alunan zikirnya, bacaan Al Qur’annya
juga kepolosannya,” Kali ini lantai keramik rumahku terdengar lirih suaranya,
kuperhatikan air mata mengalir deras di sela-sela kelopak matanya yang bening.
Saat kumerenungi
keluhan-keluhan mereka, ada satu suara dari belakang rumahku dengan sangat
memelas,”Hai manusia kemarin aku sudah berdoa kepada Alloh agar Engkau
menggorengku, lalu suguhkan pada tamumu, kamu pun sudah mengatakan dalam hatimu
begitu kan? Tapi mengapa tidak kau laksanakan? padahal aku ingin mengisi perut
mar’atus sholihah itu, aku ikhlas mati, aku ingin menjadi energi dalam tubuhnya
yang dengan energi itu bisa dia gunakan untuk menyembah Allah, aku ingin
menjadi saksi di hadapan Allah kelak. Sekarang pupuslah harapanku, karena dia
sudah pergi, aku sedih. Aku tengok suara itu dan masya Allah, ikan lele peliharaanku pun ikut
bersedih.
Tidak mungkin semua
keluhan aku tuliskan di sini, satu suara inti yang mereka kemukakan adalah Rindu…. Ya rindu pada satu sosok yang
menemani mereka dalam kebersamaan selama beberapa pekan terakhir ini.
Dengan sejauh kemampuan yang kumiliki kukatakan pada
mereka,”Saudara-saudaraku,
Aku tidak mungkin memenuhi permintaan kalian semua, secara logika dia memang
disini untuk sementara, menahan dia disini sama dengan menghambat potensi dia
untuk berkembang lebih maju.
“Maukah orang
yang kalian rindukan itu tidak maju hanya karena kesentimentilan kalian” tanyaku.
“ Tidaaaaaak,” kompak mereka menjawab.
“Sekarang begini saja, sebagai hamba Allah karena secara
lahir kita sudah terpisah dengan dia, bagaimana kalau kita doakan saja dia, bukankah kita semua lebih
dari 40 makhluk? Masih ingat kan kata orang arif bahwa doanya makhluk yang
berkumpul dalam satu majelis sebanyak 40, maka kualitas doanya mendekati
derajat doanya seorang waliyullah?”
Bergemuruh jawaban dari mereka,” Setuju….. setuju…
setuju…..” bulu kudukku merinding untuk kesekian kalinya.Akupun memulai doanya,
“Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhmmad wa’ala aalihi washahbihi wasallim. Allohumma
Tawwil ‘umrahaa,
washahhih
jasadahaa, waqdli haajaatahaa, waktsir amwalaahaa, wa aulaadahaa wahabiibahaa
linnaasi ajma’in”
Ya Allah Engkau telah pernah kumpulkan kami di kehidupan
dunia ini dalam keadaan baik, semoga Engkau kumpulkan kami di surga-Mu kelak dalam
keadaan yang lebih baik.
Engkau telah takdirkan dia pernah menjadi bagian dari
keluarga kami, takdirkan itu tidak hanya di dunia ya Robbi tapi juga di akhirat.
Ya Allah sebagaimana telah Engkau telah tanamkan
kerinduan pada hati kami semua kepadanya, tanamkanlah juga kerinduan di hatinya
pada kami, rindu untuk menjadi keluarga seagama dalam naungan Ridlo-Mu.Amin
Ya Allah … sangat banyak doa kupanjatkan, semua makhluk
disekelilingku mengamini dengan khusyuk, Aku pun terbawa emosi dan menangis tersedu-sedu
diiringi tangisan bagian-bagian dari rumahku, semuanya.
Teringatlah Aku pada kisah ketika pohon korma menangis
karena ditinggal oleh nabi Muhammad, padahal selama ini telah dijadikan tempat
khotbah oleh beliau. Setelah nabi menepuk-nepuk dan menghibur pohon itupun
terdiam sambil tersenyum gembira.
Keesokan harinya sudah tidak terdengar lagi suara-suara aneh
bergemuruh dalam rumahku, yang ada adalah damai…, damai ….. dan damai. Semoga
kita semua mengalami akhir yang baik dimanapun juga keberadaan kita. Amin ya
robbal ‘ aalaminn.