Guru dan Murid
Sebuah profesi yang sangat mulia, orang mengatakan
pahlawan tanpa tanda jasa, Yaaah…… walaupun untuk jaman sekarang masih bisa
diperdebatkan apakah masih layak guru menyandang gelar seperti itu.
Secara sederhana bisa dibuat definisi guru adalah orang
yang mendidik orang lain dengan cara keteladanan dalam perilaku dan mentransfer
ilmu yang diketahuinya kepada orang lain, baik dengan imbalan ataupun secara
sukarela.
Imam Ali karamallahu wajhah, salah seorang Khulafaur Kasyidun, juga orang yang
dijamin nabi Muhammad SAW pasti masuk
sorga pernah mengatakan,”Aku adalah murid (bahkan dalam lain perkataan, budak)
dari tiap orang yang memberikan ilmu padaku walaupun hanya sedikit.”
Lihatlah betapa tawadlu’nya sahabat ini, beliau yang digelari Gerbangnya Ilmu
Pengetahuan ternyata masih mengakui sebagai
guru kepada orang lain yang pernah memberikan ilmu
walau sedikit kepadanya. Perlu dicontoh oleh generasi sekarang yang
kadang-kadang baru punya ilmu sedikit saja sudah bertingkah di hadapan gurunya. Kalaupun ngobrol
maka itu sekedar menghormati kehadirannya tapi dalam hatinya agak meremehkan.
Masya Allah.
Murid secara
sederhana bisa didefinisikan orang yang memasrahkan diri kepada pihak lain
(bisa lembaga atau perorangan) untuk dididik dan diajari ilmu pengetahuan untuk
bekal masa depannya. Posisi murid sebagi pencari ilmu juga mulia, nabi Muhammad
mengatakan bahwa para pencari ilmu itu berada di bawah naungan sayap-sayap
malaikat. Tentunya selama pencari ilmu itu belajar dengan baik tanpa dikotori
dengan kemaksiatan yang saat ini sudah sangat merajalela.
Dalam konteks agama
ada hadits syarif yang menyebutkan,”Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah
orang yang belajar Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.”
Dari hadist ini bisa dipahami bahwa posisi guru (yang mengajar) dan
murid (yang belajar) sama sama menyandang predikat manusia yang terbaik. Oleh
karena itu seyogyanya guru menjalankan perannya dengan baik tanpa menganiaya
murid apalagi mencabulinya, Na’udzubillah min dzalik. Murid pun hendaknya
menghormati guru sebagai orang yang berperan membentuk pribadinya sejak awal
dan jangan sampai menyebut bekas guru, karena secara etika kata-kata itu
menunjukkan moral yang rendah.
Bahan renungan
untuk Guru dan Murid,
“Guru yang bukan murid itu sombong”, karena guru tidak
mau menambah wawasannya, Guru yang bukan murid akan tergilas roda jaman karena
tidak mampu adaptasi dengan perkembngan teknologi yang semakin maju. Guru
seperti ini ibarat katak yang dibawah tempurung, dia merasa besar sekali, tapi
ketika tempurung di buka baru ia menyadari bahwa dirinya itu kecil di banding
langit di atasnya.
“Murid yang bukan Guru itu tidak maju-maju”, ya karena
setelah mendapat ilmu hendaknya ia mengamalkn ilmunya (menjadi guru) , kalau
selamanya jadi murid nanti ibarat pohon yang daunnya rimbun tapi tidak keluar
buahnya. Paling pol ya jadi kayu bakar.
Kesimpulannya tiap orang itu hendaknya bisa menjadi guru
di suatu waktu tapi bisa juga menjadi murid di waktu yang lain, jadi keduanya
akan seiring dalam kemajuan dalam beradaptasi dengan kemajuan jaman yang
canggih sekarang ini.
Sungguh tepat perumpamaan yang disampaikan bang Dedi
Mizwar ketika menampilkan adegan dalam “lorong waktu” , air gelas hanya mungkin
dialiri air ketika posisi gelas berada di bawah teko, murid ibarat gelas dan
teko ibarat guru dan air adalah ilmu,
disisi lain ada satu faktor yang sering kali luput dari perhatian para
murid yaitu faktor “berkah” doa guru. Pernah kudengar pangendikan dari seorangulama berkata yang intinya begini,
”Para ulama pondok pesantren juga
para guru ngaji itu selama hidup tak pernah berhenti mendoakan
santri-santrinya, lihatlah doa
Allahummaj’alnaa waj’al aulaadanaa min ahlil ‘ilmi wa ahlil khoir …dst.
Ya Allah jadikan kami dan anak-anak kami menjadi golongan ahli ilmu dan ahli berbuat
kebaikan…dst. Nah bukankah kalimat anak-anak kami bisa di tafsirkan 2 sisi? 1
adalah anak biologis dan 2 adalah anak santri/murid. Oleh karena itu bisa
diambil kesimpulan para santri yang sudah jadi Kyai pun selalu di setrum dengan
radiasi doa dari para gurunya.“
Marilah kita
masing masing bermuhasabah, sudah kah penghormatan kita tulus kepada
guru guru kita? Bukan basa basi, bukan cari muka, bukan ada pamrih sesuatu.